Tentang Kebenaran


Kaum fundamentalis agama dan kelompok kiri itu memiliki persamaan. Sama-sama santun pada lawan debat. Apa yang menyebabkan mereka sangat santun begitu? Kemungkinan besar karena mereka merasa sudah menemukan yang benar.


Yang pertama merasa membawa pesan ilahi. Yang kedua merasa membawa kepentingan rakyat. Di pundaknya bertengger kebenaran. Tidak bisa diganggu-gugat. Semua yang tidak sepakat adalah penentang tuhan dan rakyat.


Makian dan umpatan barangkali justru terlalu ringan bagi mereka yang menentang kebenaran tuhan dan rakyat itu. Kalau perlu, mati pun mereka pantas.


Itu sebabnya saya suka orang liberal. Nyaris tidak pernah saya menemukan seorang liberal yang memaki lawan debatnya. Mengapa begitu? Liberalisme berpijak pada asumsi bahwa semua manusia memiliki kelemahan. Tidak ada di antara kita yang punya kebenaran absolut. Manusia ini dhaif, tempatnya salah dan lupa. Tak ada superman di antara kita. Superman is dead.


Orang-orang liberal akan mempertahankan pendapatnya dengan argumentasi. Tapi sekokoh apapun argumen itu, mereka tetap menyisakan ruang untuk salah. Ada ruang untuk koreksi. Karena itu, di lingkungan kelompok liberal, kesombongan kurang mendapat tempat.


Bahkan lebih jauh, penganut liberalisme juga percaya value pluralism. Masing-masing pandangan memiliki kebenaran sendiri-sendiri yang seringkali tidak bisa diperbandingkan. Kebenaran itu berserak. Ia tidak tunggal, melainkan banyak.


Jangankan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya, atau antara satu individu dengan individu lainnya, bahkan keputusan-keputusan dari satu individu pun seringkali memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Ketika kita memutuskan sesuatu, seringkali itu bukan tentang memilih di antara yang benar dan salah, tapi memilih di antara yang benar. Bahkan di dalam diri kita seorang ini, kebenaran itu beragam.


Semoga kita terhindar dari perangai takabbur.

ANTI-INVESTASI

Dulu ada sekelompok orang ngotot anti-globalisasi. Mereka tidak mau dunia ini terhubung satu sama lain. Aneh.

Orang-orang yang sama juga datang dengan semangat anti-perdagangan bebas. Mereka tidak ingin semua orang di dunia bisa berdagang satu sama lain. Sama anehnya.

Tapi narasi anti-globalisasi dan anti-perdagangan bebas ini mulai jarang terdengar. Mungkin banyak penganutnya mulai insaf diam-diam. Kita patut bersyukur.

Nah sekarang yang tersisa tinggal narasi anti-investasi. Ini tak kalah anehnya. Bagaimana mungkin orang berjuang untuk menghalangi pembukaan lapangan kerja? Perjuangan macam apa itu?

Dalam 5 bulan terakhir, sekitar 29 juta orang di negeri ini mengalami PHK menurut survei mutakhir SMRC. Sebelum Covid-19, ada 7 juta orang menganggur. 248 ribu pekerja kena PHK tiap tahun. Dan kau ingin investasi ditutup, dihalang-halangi, atau dipersulit? Tak masuk akal.

Walaupun masih ada yang bawa-bawa slogan anti-investasi, tapi saya kira tidak lama lagi pandangan ini akan ditinggalkan, seperti anti-globalisasi dan perdagangan bebas dulu. Saya yakin gagasan tak masuk akal itu akan dijauhi orang.

Sumber foto: https://images.app.goo.gl/PBKCiQd8VoyrB4SY7

PETANI DAN NELAYAN

PETANI DAN NELAYAN

Salah satu alasan penolak masuknya investasi dan industrialisasi adalah bahwa petani dan nelayan terancam tergusur. Maksudnya tergusur adalah bahwa profesi sebagai petani dan nelayan akan kian tidak diminati. Mereka akan pindah bekerja di pabrik dan industri baru yang terbangun karena dimudahkannya investasi.

Pandangan itu, menurutku, adalah pandangan otoriter, bukan demokratisasi ekonomi seperti yang mereka klaim. Mereka justru ingin memaksa petani untuk tetap bertani dan nelayan untuk tetap melaut. Mereka tidak suka jika petani dan nelayan punya alternatif pekerjaan baru. Mereka tidak mau ada pilihan dalam pekerjaan. Mereka ingin memenjara petani dan nelayan dalam profesinya sekarang. Mereka ingin menjadikan profesi petani dan nelayan sebagai kutukan yang tidak bisa tidak harus dijalani. Mereka tidak ingin para petani dan nelayan memiliki kemerdekaan menentukan nasibnya sendiri.

Menutup akses petani dan nelayan pada segala kemungkinan alternatif pekerjaan baru bukan hanya keliru, tapi juga jahat. Lawan!

Sumber foto: lisa(dot)id.

Rasisme atau Ketimpangan?

Penyiksaan yang berujung kematian George Floyd, 46, di kota Minneapolis menggerakkan massa di seluruh penjuru Amerika Serikat turun ke jalan. Kendati tiga orang polisi yang terlibat dalam pembunuhan itu telah dipecat, kemarahan warga tak kunjung surut. Diskriminasi rasial yang dianggap masih berlangsung di Amerika Serikat adalah alasan di balik demonstrasi besar ini.

Agak mengherankan, sebenarnya, jika rasisme masih ada di Amerika Serikat. Setelah Eropa porak-poranda dalam dua kali perang dunia, Amerika Serikat muncul sebagai poros peradaban dunia. Negara ini adalah pusat ide-ide kebebasan individu yang melampaui sekat-sekat ras, warna kulit, ukuran mata, apalagi sekadar agama. Mereka bahkan memilih seorang berkulit hitam dengan nama tengah “Hussein” sebagai kepala negara dua periode. Continue reading “Rasisme atau Ketimpangan?”

KOMPAS

Ada tiga kebahagiaan seorang penulis kolom. Pertama, ketika tulisan selesai dibuat. Kedua, ketika tulisan dimuat. Ketiga, ketika dapat honor. Sebenarnya ada kebahagiaan keempat, yaitu ketika tulisan dimuat oleh Kompas.

Tulisan saya dimuat pertama kali tahun 2001, di awal semester dua. Bahagianya tak terbayangkan. Saking bahagianya, honornya langsung kujemput sendiri ke kantor Kompas, Palmerah. Naik Koantas Bima P102 jurusan Ciputat – Tanah Abang. Honornya 350 ribu. Jika biasanya makan di Warsun, Kampung Utan, dengan menu ati atau telur dadar dengan nasi satu setengah berkuah banyak, kali ini berani masuk ke warung Padang Triarga samping kampus. Rasanya ingin nraktir semua orang waktu itu. Continue reading “KOMPAS”

Hagia Sophia

Hagia Sophia dibangun Emperor Justinian di abad keenam sebagai katedral Bizantium, Kekaisaran Roma bagian Timur. Abad keenam adalah masa kehidupan Nabi Muhammad. Katedral ini seusia agama Islam.

Tahun 1453, tanggal 29 Mei, Konstantinopel ditaklukkan pasukan Ottoman di bawah Sultan Mehmed II yang saat itu masih berusia 21 tahun. Tiga hari kemudian, pada sembahyang jumat pertama sang penakluk, gereja katedral itu, simbol kemegahan kekaisaran Romawi Timur, diubah menjadi mesjid. Peristiwa semacam ini sebetulnya biasa saja di masa ketika bangsa-bangsa masih saling memangsa dan menaklukkan. Dalam series Netflix “Ottoman: The Rise of Empires”, sang penakluk menyaksikan Hagia Sophia mengeluarkan asap sebelum hari penaklukan. Asap itu dipersepsi sebagai tanda kemenangam. Seolah-olah Hagia Sophia memanggil. Continue reading “Hagia Sophia”

Menjaga Pilkada Langsung

Dimuat Kompas, 21 Desember 2019

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan pentingnya evaluasi atas pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada).  Pilkada yang dijalankan selama ini dinilai berpotensi mendatangkan konflik akibat polarisasi.

Dampak lainnya, pemilihan langsung ini juga berbiaya tinggi yang pada akhirnya mendorong kepala daerah terpilih mencari sumber pengembalian dana kampanye melalui praktik korupsi. Tito mengestimasi seorang calon kepala daerah harus menyiapkan dana setidaknya Rp 30 miliar untuk maju dalam pilkada. Sementara gaji dan tunjangan seorang kepala daerah dalam lima tahun hanya sekitar Rp 12 miliar.

Continue reading “Menjaga Pilkada Langsung”

Faedah Elektoral Politik Agama

Dimuat Kompas, 11 April 2019

Barangkali tidak ada kelompok politik di Tanah Air yang tidak menggunakan isu agama menjelang Pemilihan Umum 2019. Dalam varian yang berbeda, semua faksi politik mengotori tangannya dengan kampanye sektarian ini.

Dimulai pada 2014, isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) diembuskan. Calon presiden Joko Widodo (Jokowi) kala itu menjadi sasaran. Sampai hari ini, isu itu tidak pernah benar-benar hilang, malah terus direproduksi dalam medium yang berbeda-beda. Isu ini kemudian dipercanggih dengan disebarkannya asumsi tentang masuknya tenaga kerja asing, terutama dari China, yang melimpah, sampai menyentuh angka 10 juta orang. Kedekatan hubungan Indonesia dan China dianggap memiliki misi tertentu untuk membangkitkan kembali partai yang sudah lama mati: PKI.

Continue reading “Faedah Elektoral Politik Agama”

Ilusi Pemilu tidak Netral

Dimuat Harian Kompas, 18 Maret 2019.

Terhitung sejak 1998, Indonesia sudah berada dalam sistem politik demokratis selama 21 tahun lamanya. Arend Lijphard dalam Patterns of Democracy (1999) menyatakan bahwa negara yang mengalami sistem demokrasi selama minimal 19 tahun tanpa interupsi bisa dikategorikan sebagai negara dengan demokrasi yang stabil.

Pada demokrasi yang stabil, demokrasi tidak lagi dipertanyakan sebagai sistem politik. Tidak ada lagi gerakan yang secara serius dan signifikan yang bisa menghancurkan demokrasi. Tak ada gelombang gerakan publik yang ingin mengganti sistem. Juan J Linz dan Alfred Stepan dalam Problems of Democratic Transition and Consolidation (1996) menyebutnya sebagai ”the only game in town”.

Continue reading “Ilusi Pemilu tidak Netral”

PSI dan Politik Pinggiran Jokowi

Kompas, 29 November 2018

Dalam acara puncak ulang tahun Partai Solidaritas Indonesia (PSI), saya melayangkan beberapa ”postingan” tentang partai anak muda ini. Intinya, saya menaruh harapan pada partai yang baru berdiri empat tahun lalu itu.

Postingan saya itu disambut pengikut dan kawan media sosial. Walaupun hampir semua memberi respons positif, ada beberapa respons negatif yang menurut saya menarik untuk diulas. Respons itu antara lain adalah mengkritik PSI karena dukungannya pada pemerintahan Joko Widodo.

Menurut mereka, semangat kritis PSI sirna di hari ketika mereka memutuskan mendukung Jokowi yang sedang menjalankan pemerintahan. Alih-alih menjauhi zona nyaman, partai ini dinilai justru mendekati lingkaran kekuasaan.

Continue reading “PSI dan Politik Pinggiran Jokowi”