KOMPAS

Ada tiga kebahagiaan seorang penulis kolom. Pertama, ketika tulisan selesai dibuat. Kedua, ketika tulisan dimuat. Ketiga, ketika dapat honor. Sebenarnya ada kebahagiaan keempat, yaitu ketika tulisan dimuat oleh Kompas.

Tulisan saya dimuat pertama kali tahun 2001, di awal semester dua. Bahagianya tak terbayangkan. Saking bahagianya, honornya langsung kujemput sendiri ke kantor Kompas, Palmerah. Naik Koantas Bima P102 jurusan Ciputat – Tanah Abang. Honornya 350 ribu. Jika biasanya makan di Warsun, Kampung Utan, dengan menu ati atau telur dadar dengan nasi satu setengah berkuah banyak, kali ini berani masuk ke warung Padang Triarga samping kampus. Rasanya ingin nraktir semua orang waktu itu.

Tulisan dimuat oleh surat kabar nomor satu Indonesia ternyata bukan main pengaruhnya. Semangat untuk terus menulis berkali-lipat besarnya setelah itu. Terima kasih, Kompas.

Kompas bermula dari pertemuan Jacob Oetama dan Petrus Kanisius Ojong di sebuah kegiatan jurnalistik tahun 50an akhir atau 60an awal. Keduanya adalah jurnalis. Jakob Oetama adalah jurnalis majalah Penabur pimpinan JW Oudejans OFM. Sementara PK Ojong saat itu sudah memimpin Harian Keng Po dan Star Weekly. Pertemuan dua orang jurnalis ini kemudian menjadi kian intens sampai kemudian keduanya mendirikan Majalah Intisari tahun 1963. Beberapa tahun sebelumnya, media asuhan PK Ojong diberangus pemerintah, Keng Po tahun 1958 dan Star Weekly tahun 1961.

Majalah Intisari dikenal sebagai Reader’s Digestnya Indonesia. Selain Oetama dan Ojong, sejumlah penulis terkenal juga terlibat di sana, seperti Nugroho Notosusanto, Soe Hok Djin (Arief Budiman), Soe Hok Gie, dan Kapten Ben Mboi.

Sebuah tawaran pada Oetama dan Ojong kemudian datang dari Partai Katolik. Melalui perantara Frans Seda, mereka diminta mendirikan sebuah media yang bisa menampung aspirasi Partai Katolik. Idenya datang dari Jenderal Ahmad Yani. Alasannya, Partai Katolik perlu memiliki sebuah media untuk mengimbangi media partisan, terutama milik Partai Komunis Indonesia.

Saat itu, umumnya media didirikan sebagai bagian dari propaganda politik partisan. Media-media partai yang dominan saat itu antara lain Abadi (Masjumi), Duta Masyarakat (NU), Suluh Indonesia (PNI), Harian Rakjat, Harian Bintang Timur, Warta Bhakti (PKI), Pedoman dan Harian Nusantara (PSI). Juga media yang berafiliasi pada agama seperti Sinar Harapan milik kelompok Protestan (Ishadi SK, 2018).

Jakob dan Ojong sepakat mendirikan media baru penyeimbang, tapi tidak akan menjadi media partisan. Walaupun inisitif pendirian datang dari komunitas Katolik, media baru ini akan menjadi media tempat bernaung semua kalangan. Media baru ini diharapkan menjadi miniatur Indonesia yang pluralis.

Media baru itu diberi nama Bentara Rakyat. Namun atas usulan Soekarno, media itu kemudian menggunakan nama Kompas. “Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan dan hutan rimba,” kata Soekarno. Secara resmi, Kompas berdiri tanggal 28 Juni 1965.

Sejarah kemudian mencatat, Kompas benar-benar menjadi rujukan utama publik tanah air untuk mendapatkan informasi yang akurat dan mendalam. Bahkan di tengah keterbatasan pada masa Orde Baru, media ini terus tumbuh dan bertahan.

Tanggal 21 Januari 1978, bersama 7 media cetak lain, Kompas dibreidel Orde Baru. Alasannya sederhana: media-media itu memuat berita tentang demonstrasi mahasiswa yang menolak dicalonkannya kembali Soeharto sebagai presiden.

Kompas lahir dengan semangat non-partisan. Reduksi atas realitas diminimalisir dengan berupaya menghadirkan berita yang mendalam. Kompas memiliki kecurigaan pada realitas yang nampak di permukaan. Karena itu mereka mencoba menggali kebenaran dari pelbagai sudut, dikenal sebagi cover all sides. Dengan penyajian berita yang gamblang itu, pembaca disilakan untuk membangun pemahaman sendiri pada fenomena yang disajikan di tiap lembar tulisan Kompas.

Sindhunata dalam sebuah wawancara menyatakan “reportase yang dia (Jakob Oetama) inginkan bukan sekadar deskripsi dari realita yang kering, tapi perluasan dari realita. Sehingga media menjadi semacam panggung kedua setelah realita yang kita alami. Dan di panggung itu, kita mengalami dan merasakan suatu berita yang berair mata, berpengharapan.” Menguti Jakob Oetama, Sindhunata melanjutkan “Pekerjaan wartawan itu bukan pekerjaan bersih di belakang meja, tapi pekerjaan kaki yang berlelah-lelah di lapangan. Bertemu dengan manusia dan melukiskan segala kegelisahannya.”

Ikhtiarnya membangun media yang independen dan lebih mengedapankan sajian berita objektif dan dalam membawa tradisi baru media tanah air. Sebelumnya, media dikotak-kotakkan berdasarkan ideologi, bahkan partai politik. Kompas memilih untuk tidak menjadi media propaganda.

Namun demikian, bukan berarti Kompas bebas nilai. Jakob Oetama mengakui bahwa media harus punya frame. Realita yang diberitakan tentu harus dimasukkan ke dalam bingkai atau framing. Di sini, secara sadar, Jakob Oetama menjadikan Indonesia dan rakyat Indonesia sebagai bingkai. Kompas didedikasikan sebagai suara Indonesia, terutama mereka yang terpinggirkan. Kompas berupaya menjadi penyampai suara yang tak mampu bersuara. Giving voice to the voiceless. Amanat hati nurani rakyat. Dalam Tajuk Rencananya, 21 Mei 1974, Jakob Oetama menulis: “Pers itu memihak kepentingan rakyat banyak, terutama mereka yang lemah.”

Selamat hari lahir Kompas yang ke-55.

Depok, 28 Juni 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s