Rasisme atau Ketimpangan?

Penyiksaan yang berujung kematian George Floyd, 46, di kota Minneapolis menggerakkan massa di seluruh penjuru Amerika Serikat turun ke jalan. Kendati tiga orang polisi yang terlibat dalam pembunuhan itu telah dipecat, kemarahan warga tak kunjung surut. Diskriminasi rasial yang dianggap masih berlangsung di Amerika Serikat adalah alasan di balik demonstrasi besar ini.

Agak mengherankan, sebenarnya, jika rasisme masih ada di Amerika Serikat. Setelah Eropa porak-poranda dalam dua kali perang dunia, Amerika Serikat muncul sebagai poros peradaban dunia. Negara ini adalah pusat ide-ide kebebasan individu yang melampaui sekat-sekat ras, warna kulit, ukuran mata, apalagi sekadar agama. Mereka bahkan memilih seorang berkulit hitam dengan nama tengah “Hussein” sebagai kepala negara dua periode.

Saya sendiri masih berusaha menganggap bahwa negari Paman Sam yang mendaku sebagai negeri para imigran itu pada dasarnya tidak rasis. Rasisme digunakan untuk menamai sebuah fenomena yang sebetulnya bukan rasisme. Fenomena itu bernama ketimpangan.

Dalam buku terbarunya, ‘Capital and Ideology’ (2020), ekonom Perancis, Thomas Piketty menyebut bahwa 5 persen orang dewasa berkulit hitam di Amerika Serikat ada di dalam penjara karena pelbagai kejahatan. Dari total populasi orang dewasa AS, 1 persennya dipenjara, kata Piketty mengutip data 2018. Ini membuat AS cukup terdepan dalam memenjara orang.

Sebagai perbandingan, pada tahun kematian Stalin, 1953, sebanyak 5 persen penduduk dewasa Uni Soviet ada di balik jeruji. Banyaknya orang yang ditangkap itu bukan karena kasus politik, pemberontakan atau gera’an-gera’an kontra-revolusi dewan jenderal, tapi karena kasus pencurian barang-barang publik untuk sekadar menyambung hidup. Juliette Cadiot menyebut negara komunis itu sebagai “the society of thieves”. Ini ironi, kata Piketty, sebab negara yang lahir dari Revolusi Bolshevik 1917 itu justru bercita-cita melakukan emansipasi dan mentransformasi rakyat, bukan untuk memenjarakannya. Kasusnya sepele pula: mencuri barang publik untuk sekadar bisa makan. Negara komunis memang tidak mengenal kepemilikan pribadi. Nyaris semuanya adalah barang publik. Jadi kalau kau mencuri, besar kemungkinan yang kau curi adalah harta kekayaan negara.

Kembali ke kasus AS, proporsi orang kulit hitam melakukan kejahatan dan kemudian dipenjara memang besar dibanding dengan warga dengan latar-belakang warna kulit yang lain. Karena itu, tidak serta merta bisa disimpulkan bahwa pemenjaraan warga kulit hitam dengan porsi besar itu karena polisi dan aparat penegak hukum AS rasis. Ya itu karena memang secara objektif jumlahnya banyak.

Pertanyaannya, kenapa proporsi warga kulit hitam lebih banyak yang bermasalah secara hukum dibanding yang lain? Berdasarkan video penjarahan, vandalisme dan aksi pengrusakan properti pihak lain beberapa hari ini, misalnya, hal yang sama juga terlihat.

Kemungkinan penyebab disparitas itu adalah ketimpangan kesejahteraan (inequality). Piketty memaparkan akar ketimpangan ini jauh ke belakang mulai dari era trifunctional atau ternary societies, perbudakan, kolonialisme, kompensasi atas pembebasan budak, formulasi pajak dan social spending, akses pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi, dan seterusnya sampai sekarang.

Sebuah tulisan di New Yorker, 16 April 2020, oleh Keeanga-Yamahtta Taylor mengungkap bagaimana Covid-19 memiliki dampak yang berbeda bagi kelompok kulit hitam atau African-American di AS. Mengutip laporan Reuters, Taylor menyatakan bahwa African-American memiliki resiko kematian lebih besar dari kelompok warga lain.

Secara sepintas terlihat seolah-olah Covid-19 itu rasis: lebih suka membunuh warga dengan latar belakang warna kulit tertentu. Persoalannya bukan karena rasisme virus korona, tapi lagi-lagi karena ketimpangan. Akses hidup sehat warga kulit hitam lebih rendah dari kelompok warga lainnya.

Di awal tulisannya, Keeanga Taylor menyitir sebuah aforisme tua dari masyarakat kulit hitam Amerika: “When white America catches a cold, black America gbets pneumonia”. Aforisme itu bisa disesuaikan dengan fenomena sekarang, kata Keeanga Taylor: “when white America catches the novel coronavirus, black Americans die.”

Jadi mungkinkah sebenarnya ini bukan rasisme, melainkan ketimpangan? Dan akar persoalannya memanjang ke belakang bahkan jauh sebelum Amerika Serikat terbentuk.

Mari kita kaji lebih dalam.

Depok, 12 Juni 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s