Eucalyptus

Engkau menceritakan kepadaku tentang kotamu. Suatu lembah yang dikeruk lebih dalam. Menjadi telaga. Gedung-gedung bersama pohon tumbuh di sekitarnya. Di pagi hari dan menjelang senja kakaktua putih berjambul kuning bertengger di reranting eucalyptus. Di bawah pohon-pohon berbatang putih itu berlarian kelinci berwarna kelabu. 
Pada suatu hari, kataku, aku ingin ke kotamu. Berjalan di atas padang ilalang tempat hidup koala dan platypus. Melihat rerumput hijau kuning pembungkus bukit-bukit. Atau sekedar mencium aroma daun kayu putih yang di tangkainya melilit possum dengan mata menyala di malam hari. 
Tapi engkau melarangku. Katamu, kota itu tidak cocok untuk aku kunjungi. Udaranya terlampau panas di musim kering. Terlampau dingin di musim gigil. Aku yang sepanjang umur hidup di udara rata-rata tidak akan tahan. Kulit tropisku akan mengkerut di musim dingin, melepuh di musim panas, dan terkelupas di musim gugur. Adapun musim semi. Ia akan datang teramat singkat untuk penderitaanku sepanjang tahun. 

Baca lengkapnya…

Yang Terlarang Bersujud

Paul Klee, Angelus Novus

Kami masih menyusuri lorong-lorong kota. Di langit, matahari bersinar terang. Dua tiga orang di jalan. Menepi dan berpeluh. Kota Makassar seperti terbakar.

“Apa penjelasan mereka?” tiba-tiba supir taksi bersuara. Pertanyaan yang membuat saya, mungkin juga yang lain, tercengang. Continue reading “Yang Terlarang Bersujud”

Bintang Laut

Koran Tempo, 13 Desember 2009

AKU kembali ke pantai ini. Mengingatmu, perempuan laut.

Akan selalu kuingat ketika di siang hari menjelang asar kita tidak pernah sabar menanti air surut ke tengah. Ketika garis pantai semakin menjauh, kita akan berlari ke tengah. Bergabung bersama anak-anak remaja yang mulai berkumpul. Ada yang memasang tiang gawang. Yang lain membagi diri menjadi dua regu. Seperti biasa, ketika permainan bola sore telah dimulai, kita akan berjalan mendekati pantai yang semakin jauh. Karang-karang aneka bentuk mulai muncul ditinggal laut yang menyusut. Kamu akan mulai mengumpulkan kerang-kerangan tak berpenghuni. Memungutinya. Membuntalnya di baju. Bajumu menjadi basah. Butiran-butiran pasir melekat di kulit perutmu yang tersingkap.

Pernah juga aku menemukan bintang laut yang tersesat. Dia terdampar dan tak sempat memburu air yang keburu surut. Aku memberikannya kepadamu. Kamu tak mau memegangnya. Kamu tidak suka kasar kulitnya. Sementara tentakelnya yang membuka-tutup menakutimu. Tapi aku suka. Bentuknya yang persegi lima dengan masing-masing jari sama panjang selalu menarik perhatianku. Aku katakan ambillah. Kita akan susah menemukannya di pagi hari. Bintang laut tidak menyukai pasir. Mereka hidup di air dangkal berkarang. Kamu bertanya kenapa bisa begitu. Aku tidak pernah bisa menjawab. Continue reading “Bintang Laut”

Prahara Kopi Pekat di Pagi Bisu

Saya bekerja di toko roti di seberang jalan itu. Sudah lama saya mengenal Anda. Siapa yang tidak kenal pengarang seperti Anda. Saya membaca semua novel Anda. Novel terakhir terus mengusik pikiran saya. Tampaknya semua orang yang membaca akan selalu ingin melanjutkan ceritanya dalam imajinasi. Saya ingin melanjutkannya dalam kehidupan saya sendiri. Continue reading “Prahara Kopi Pekat di Pagi Bisu”

Dering

Dan ini adalah kali yang ketiga kau menerima sms misterius itu. “Telah kutitipkan diriku di asap yang sebentar kemudian mengudara,” demikian bunyi sms dengan nomor pengirim 0815 sekian-sekian. Belum lama berselang ketika kau mulai menyusuri setiap lorong kenanganmu tentang nomor-nomor hp, hpmu kembali berdering membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti. Kau buka file nama-nama sahabatmu, tidak ada nomor 0815 sekian-sekian di sana. Kau telusuri daftar rekan kerja, pun nihil hasilnya. Dan kau merasa tidak perlu menghitung nomor-nomor bekas pacarmu, jelas nomor itu bukan nomor mereka. Lalu isi pesan itu, ah rasa-rasanya kau baru kali ini menerima pesan pendek yang terlalu sarat dengan misteri. Selama ini, paling banter kau hanya menerima teka-teki biasa sebagai bahan lelucon dari sahabat, rekan, ataupun pasangan-pasangan intimmu. Sementara pesan yang sedang mengganggumu ini benar-benar lain. Inti pesannya tidak jelas, dan teramat gelap. Kau malah sampai kepada kesimpulan, itu bukan pesan, melainkan hanya metafor yang tidak punya arti, hanya berupa igauan pengirimnya yang juga kurang waras. Tapi kok berkali-kali mengirim? Kenapa kepada kau? Atau orang lain juga mendapat kiriman sms seperti itu? Menurut penulis cerita, sms itu hanya ditujukan kepadamu, hanya kau yang menerima sms aneh itu, orang lain semuanya masih berada dalam kehidupan per-sms-an yang wajar, seperti kau sebelum menerima sms aneh itu.

Hpmu kembali berdering, ini adalah kali yang kedua puluh satu. Darahmu mendidih. Kau betul-betul merasa terganggu dengan dering bunyi hp yang berkali-kali itu. Ingin rasanya kau membanting hpmu, kalau saja kau tidak ingat arti pentingnya hp bagimu. Hp telah memperkenalkanmu dengan banyak hal yang tidak mungkin kau kenal kalau saja kau tak punya hp. Hp telah membawamu merambah lebih jauh lebih dari sekedar apa yang kau bisa raih dengan organ tubuh aslimu. Oh, kenapa tidak kau matikan saja? Selain disediakan fasilitas dihidupkan, hp juga membuka peluang untuk dimatikan, sehingga semua pesan dan keinginan orang untuk menghubungimu lewat udara akan tertunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Atas saran yang tiba-tiba muncul dalam kepalamu, yang tak pernah kau coba pikirkan muasalnya, kau matikan hp itu. Ada rasa lega. Kini kau bersiap-siap melanjutkan penelusuran ingatan, tanpa perlu tersendat oleh deringan hp yang membawa pesan yang sama, pikirmu.

Kau mulai dari nama Acong, ternyata hpnya tidak bernomor 0815 sekian-sekian. Kemudian Banu, juga bukan 1815 sekian-sekian. Tidak ada yang pas. Kalaupun ada, tentu namanya akan terpampang secara otomatis ketika kau membuka sms itu. Kau kemudian berniat mencari dan membuka daftar nomor telepon atau bertanya kepada operator telepon yang biasanya mengetahui nomor-nomor telepon. Tapi betapa bodohnya, bukankah para pemilik hp tidak pernah jelas, tidak terdaftar nama-namanya, apalagi kalau hp tersebut telah pindah tangan ke orang kedua, hp second, ketiga, atau kesepuluh? Kau mengurungkan niat. Hpmu kembali berdering membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti maksud dan arahnya. Bertambah lagi keanehan yang lain, hpmu masih bisa berdering setelah kau matikan. Kau sekarang membuka kartu dan beterainya, meski kau yakin hp itu tetap akan berdering. Belum sempat kau tutup kembali, hp itu berdering lagi, tanpa kartu dan baterai. Di hp itu tertulis sebuah pesan pendek: “Telah kutitipkan diriku di asap yang sebentar kemudian mengudara.” Itu adalah kali yang ke seratus tiga puluh tiga.

Pada hitungan yang ke seribu dua puluh satu, kau mulai memikirkan untuk menyingkirkan hp yang mengusik kehidupanmu itu. Kau harus memindah-tangankan hpmu. Meskipun akan ditawar murah, ke counter terdekat adalah alternatif satu-satunya. Setelah itu barangkali kau akan membeli kembali hp yang baru, yang tidak diketahui nomornya oleh pengirim sms cilaka itu. Tapi, siapa pula orang bodoh yang mau membeli hp yang setiap saat berdering? Betul, hp dimaksudkan untuk bisa berdering menyampaikan pesan dan juga untuk mengirim pesan, tapi hp yang setiap waktu berdering dan membawa pesan yang itu-itu juga, yang susah dimengerti pula, pengirimnya misterius pula, adalah alamat buruk bagi kehidupan. Jangankan membeli, menyewa orang untuk memiliki hp semacam itu pun barangkali tidak ada yang mau. Kau urungkan niatmu menjual hp sebelum tiba masalah yang baru.

Hp itu berdering lagi untuk yang kedua ribu sekian. Pesannya tetap sama: “Telah kutitipkan diriku di asap yang sebentar kemudian mengudara.” Kau raih hp itu ke tanganmu. Lalu kau pasang kembali segala atributnya yang telah kau lepas. Beberapa kali hp itu tetap berdering membawa pesan yang tidak kau mengerti. Dan kau lanjutkan meletakkan hp yang terus berdering itu di atas meja. Kau pandangi. Kau tidak lagi memikirkan darimana deringan yang membawa pesan itu berasal, yang membuatmu pusing adalah bagaimana segera menyingkirkan hp itu dari kehidupanmu. Dalam pikiranmu, kau telah menggali kuburan buat hpmu itu. Kuburan yang kau rancang kira-kira seukuran yang pas buat kematian sebuah hp. Hpmu telah mati sejak ia terus mengusikmu—atau jangan-jangan hp itulah yang membuatmu mati? Kuburan itu kau tempatkan di sebuah bukit tak jauh dari rumahmu. Tentu saja kau tidak akan menguburnya di halaman depan atau belakang. Pikirmu, hp itu tetap akan berdering, dan kau akan tetap terusik oleh deringannya. Tapi apakah ide itu benar-benar akan menyelesaikan masalah? Bagaimana kalau ada orang yang lewat dan mendengar hp itu berdering membawa sebuah pesan pendek yang tidak dimengerti? Orang itu tentu akan mendekat, menggali, mengambil, dan sangat boleh jadi hp itu dikembalikan kepadamu.

◙◙◙

Awalnya, hpmu itu tidak pernah membuatmu susah, kau beli dengan hasil keringat. Waktu itu kau sangat ingin memiliki hp, karena telah dimaklumkan, bahwa semua orang pasti punya hp. Kau tidak ingin kehilangan predikat orang gara-gara kau tak punya hp. Sebelum memiliki hp, kau selalu menghindar ketika orang bertanya kepadamu tentang nomor hp. Maka kau kumpullah uangmu dan kau beli hp. Pertama kali menyentuh hp milik sendiri, tanganmu gemetar. Seharian penuh kau mengirim sms dan menelepon setiap temanmu, sekedar menanyakan kabar dan berbasa-basi. Kau sadar, beberapa orang yang kau hubungi akan merasa heran, karena kerap kau menanyakan sesuatu yang sangat tidak wajar, tapi tetap harus kau lakukan itu: hari itu kau menyatakan eksistensimu sebagai manusia.

◙◙◙

Ide yang paling menarik, hp itu kau harus buang ke laut. Di laut, hp itu tidak akan berdering. Kalaupun berdering, tidak akan ada suara yang bisa didengar orang: suara hp itu akan habis diserap air. Kalaupun terdengar, suaranya akan hilang tenggelam ditelan suara ombak. Orang pasti mengira itu hanya suara ombak atau suara angin yang menyentuh ujung-ujung nyiur dan layar perahu nelayan. Kalaupun terdengar, paling hanya didengar oleh nelayan dan anak-anak pantai. Mereka tentu tidak akan ambil pusing dengan suara deringan hp.

Tapi kalau suaranya tetap terdengar jelas sampai ke darat? Wah, repot. Lama-kelamaan suara hp akan menjadi satu musik yang mengundang perhatian. Orang-orang akan gempar dan mencari sumber deringan. Boleh jadi suara itu mengusik orang-orang pantai dan mengusik pula polisi untuk melakukan penyelidikan, maka kau akan menjadi sasaran interogasi. TIDAK.

Lalu kau sampai pada titik kulminasi: kau akan membanting hp itu sebanting-bantingnya hingga hancur berkeping. Kau akan menumpahkan semua rasa kesalmu pada hp itu. Setelah kau banting, hp itu akan kau ludahi dengan ludah yang sangat ludah seludah-ludahnya. Kalau hp itu masih berdering, kau akan menumbuk pecahannya sampai menjadi bubuk yang tidak bisa terpecah lagi. Tapi dimana kau akan melakukan rencana dahsyat itu? Kau tentu tidak akan melakukannya sekarang di kamarmu. Kamarmu akan berantakan karena kemarahanmu. Kau harus berpikir seribu kali untuk menumpahkan amarah di kamar sendiri. Perabotan kamar bisa ikut pecah dan berantakan bersama pecahnya hp yang akan kau luluh-lantakkan. Kau memang terganggu dan marah dan ingin menumpahkan kemarahanmu, tapi bukan di tempatmu sekarang ini. Lalu dimana? Menumpahkan segala kekesalan di pinggir jalan atau di tempat umum lainnya sangat tidak layak dan akan melukai sisi etika kemanusiaanmu. Orang-orang akan berbisik memperhatikan tindakanmu yang membanting-banting hp dengan raut wajah marah. Untuk memambah kepuasan dalam menumpahkan amarah, tentu saja kau perlu mengumpat, dan mengumpat-umpat di tengah orang yang mulai mengerubungimu akan menambah catatan gila pada dirimu. Oh, gila. Tidak ada orang yang mau disebut gila. Semua orang ingin hidup wajar. Kegilaan adalah aib bagi mereka yang hidup normal. Bukankah begitu?

Hpmu terus berdering mengiringi kerja otakmu yang kian buntu: membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti: “Telah kutitipkan diriku di asap yang sebentar kemudian mengudara.” Ke tempat sunyi juga bukan jalan keluar yang jitu. Kesunyian seringkali mengganggu konsentrasi untuk sampai kepada puncak kemarahan. Sunyi selalu identik dengan perasaan sedih atau bahagia. Oleh karenanya, mereka yang ingin membuat puisi atau ingin menumpahkan kebahagiaan atau kesedihannya biasanya mencari tempat yang sunyi. Sedangkan orang yang sedang marah juga mencari tempat sunyi, tapi bukan untuk menumpahkan amarahnya, melainkan untuk menghibur diri dan melakukan refleksi agar marahnya reda. Belum lagi tempat sunyi sudah sangat susah mendapatkannya. Hampir semua kulit bumi telah terjamah oleh kebisingan. Hutan-hutan yang masih tersisa sangat jauh tempatnya. Dan kau tidak punya persiapan biaya untuk melakukan perjalanan jauh. Lalu kenapa pula kau harus mengeluarkan ongkos yang banyak hanya untuk menyingkirkan dan menumpahkan amarah kepada sebuah hp yang selalu berdering membawa sebuah pesan pendek yang tidak kau mengerti?

Menumpahkan amarah secara maksimal kepada sebuah hp yang terus berdering ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Barangkali kau harus segera mengakhiri petualangan kebimbangan ini dan segera mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang kira-kira bisa kau lakukan adalah membakar hp yang terus mengusikmu itu. Kau tidak perlu jauh-jauh mencari lokasi tempat pembakaran, cukup di halaman atau di belakang rumah. Satu hal yang agaknya perlu kau perhatikan adalah amarahmu. Tujuan utamamu bukan amarah, melainkan melenyapkan hp. Kau tidak perlu mengumpat dan mengundang orang untuk menertawakanmu sebagai orang gila. Setelah kau bakar, kalaupun tetap berdering, setidaknya hp itu tidak akan kembali lagi padamu. Dia akan menjadi abu untuk selama-lamanya. Dan jangan berpikir panjang lagi untuk melaksanakan niatmu itu, sebab pikiran-pikiran lain mudah datang dan merubah rencanamu. Kau sudah kenyang pengalaman tentang itu.

Tanpa perlu mempersiapkan macam-macam, kau ke dapur meraih korek dan minyak tanah seadanya. Kau memilih halaman depan sebagai tempat eksekusi bagi hpmu yang tetap berdering membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti. Melewati ruang tengah, hpmu terus berdering. Deringanannya semakin nakal. Kesabaran yang coba kau pendam masih saja diuji oleh deringan hp yang tak henti-henti. Deringannya mengiang-ngiang dalam kepalamu membuat darahmu panas dan meriakkannnya serupa magma yang siap tuang ke kaki gunung merapi. Bibirmu bergetar menahan amarah. Minyak tanah di tanganmu tak kuasa bertahan di atas udara dan ia lepas tumpah ke lantai. Sampai di sinilah batas kuasa benteng pertahananmu. Dan kau banting hp yang terus berdering itu ke lantai. Dalam perjalanan bantingan ke lantai, hp itu tetap berdering membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti. Seper-sekian detik sebelum menyentuh lantai, kau nyalakan api serupa bara di dadamu.

Hp itu terpental pecah berhamburan dengan hanya sekali bantingan. Kembali hp yang kini jadi potongan-potongan itu melayang bersangga udara semesta ruangan, dan jatuh bersamaan dengan api yang mulai merambati lantai dan dinding kayu. Hpmu tenggelam dalam koran api yang melalap seisi rumahmu. Di antara kobaran api dan derit kayu yang gosong, sayup terdengar suara deringan hp membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti: “Telah kutitipkan diriku di asap yang sebentar kemudian mengudara.”

◙◙◙

Api telah padam, dan kau menemukan arang, abu, dan bau sisa kebakaran. Tiba-tiba kau dengar sebuah deringan yang akrab di telingamu, sebuah deringan yang membawa pesan pendek yang tidak kau mengerti. Awalnya, deringan itu hanya satu. Kemudian muncul deringan kedua, ketiga, sampai akhirnya deringan-deringan hp yang tak terhitung memenuhi pendengaranmu. Deringan-deringan itu bersahutan tak beraturan. Hp yang telah menjadi abu masih berdering, dan kini dalam jumlah yang banyak. Kau mendekati suara-suara itu, kau kumpulkan, kau pisahkan dari abu-abu yang lain. Abu hpmu kau genggam. Kau acungkan ke udara.

Dan kau dengar hp yang telah menjadi abu itu berdering membawa sebuah pesan pendek dengan nomor 0815 sekian sekian yang tidak kau mengerti, dan takkan pernah kau mengerti. Angin berhembus dari selatan membawa abu hp beterbangan ke udara dan tetap berdering untuk kesekian juta kali membawa sebuah pesan pendek. Kau terpekur lesu tak berkata apa-apa melepas hpmu yang terbang menyebar ke langit. Sementara suara hp berdering membawa sebuah pesan pendek tetap terdengar di telinga dan rongga otakmu. Suaranya semakin besar. Dan pendengaranmu kini dipenuhi suara hp yang berdering. Suaranya menggema memantul-mantul di diding dalam tubuhmu, untuk kemudian keluar melalui setiap rongga dan pori-porimu. Kau berdering membawa sebuah pesan pendek: “Telah kutitipkan diriku di asap yang sebentar kemudian mengudara,” dengan nomor pengirim 0815 sekian sekian.

Ciputat, 6 Agustus 2003

Air Mata Terakhir

“Tidak Ibu. Aku merasa wajib mengejarnya. Aku harus mengambil hatinya untuk ayah”.

Ibu itu menangis. Terlalu banyak sudah kata-kata yang ia lontarkan untuk anak semata wayangnya. Namun semuanya mental kembali. Kadangkala kata-kata yang berhamburan dari mulut keriput itu hanya bisa menggelepar sesaat, klepak, klepak, lalu beku, dan sejenak kemudian akan mengasap menjadi udara, lenyap. Yang ada padanya kini hanya air mata. Dan ia mencoba menahan putranya dengan air mata—air mata yang telah banyak pula ia keluarkan. Air mata itu mengalir sedikit-sedikit, tertahan-tahan, tapi air mata itu telah mencipta dua aliran sungai kecil yang bergerak di antara kerut keriput wajah tuanya.

Sebetulnya wajah itu tidak terlalu tua, bahkan tidak bisa disebut tua, kalau tua diidentikkan dengan ketidak menarikan. Kata keriput di atas pun sebenarnya untuk menyebut garis-garis kecantikan yang masih nampak jelas diwajahnya. Garis kecantikan yang akan tetap memancarkan kecantikan, tidak akan pernah hilang, bahkan ketika garis dan kecantikan itu sendiri hilang, ia masih tetap akan cantik.

***

Air mata wanita itu telah mengalir jauh melewati leher dan dadanya. Ujung-ujungnya kini tidak lagi berupa air, melainkan berubah menjadi benang halus. Meskipun halus, benang itu sangat kuat. Ujung air mata benang itu merambat di antara pakaiannya. Perlahan kemudian lepas dari pakaian dan melambai. Melambai bukan karena tertiup angin, sebab angin tidak bertiup di ruang gubuk itu. Air mata benang itu melambai, berusaha menggapai Suro. Mula-mula air mata benang itu berhasil menyentuh lengan Suro, kemudian merambat melingkari tubuh, akhirnya melilit tubuh Suro. Suro meronta, dan air mata benang itu semakin melimpah. Melilit.

“Ibu! Tolong Ibu! Jangan biarkan anakmu yang laki-laki ini menjadi bukan laki-laki. Maksudku, mereka telah mengambil kehormatan keluarga kita dan menyimpannya di hati mereka. Kalau aku tidak berhasil merebut hatinya, kita tidak akan pernah bisa lagi hidup dalam kehormatan.

Dan bukankah ayah, semasa hidupnya, sangat mempertahankan kehormatan itu? Beliau tidak pernah mau menyerahkannya kepada siapapun. Orang-orang kota yang pernah memintanya itu pun tidak digubrisnya. Meskipun itu akan ditukar dengan sebuah sepeda motor. Sepeda motor, Ibu! Sepeda motor yang tak seorang pun memilikinya di daerah kita. Sepeda motor yang bisa mempercepat Ibu ke pasar; mengantar ayah ke ladang; dan yang bisa mengajak aku dan Sumi, gadisku, jalan-jalan. Ayah menolak dengan satu prinsip:

“Kehormatan keluargaku adalah segala-galanya. Kehormatan itu tidak mahal, tapi juga tidak murah. Ia tak ternilai. Jadi, silahkan tuan-tuan membawa pulang Tuan-tuan punya sepeda motor. Sebab kehormatan keuargaku bukan nilai yang bisa dinilai dengan sesuatu, apapun. Bukannya aku melecehkan dan tidak menghargai sepeda motor yang akan Tuan-tuan berikan. Sepeda motor Tuan-tuan sangat bernilai. Di daerah sini tak satupun yang memilikinya. Tapi sekali lagi, kehormatan keluarga saya bukanlah sebuah nilai. Ia berdiri sendiri, independen. Maaf Tuan-tuan.”

Ibu tentu masih ingat apa yang dilakukan orang-orang kota itu setelah mendengar paparan ayah. Mereka marah, muak, dan merasa digurui. Ayah memang kadang begitu: terlalu panjang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Dan orang-orang kota yang terpelajar itu, tentu saja tidak ingin digurui oleh orang, yang dalam anggapan mereka, tidak pantas menguruinya. Ayah kemudian digertak dan diancam, kalau tidak menyerahkan kehormatan keluarga kita, maka mereka akan memaksa dan kemungkinan besar mereka akan membunuh ayah. Ia kan? Mereka betul-betul merampas kehormatan kehormatan kita sekaligus menyarangkan dua butir pelor di otak belakang ayah dari depan.

Ibu! Saya sangat kagum akan kegigihan ayah. Sampai saat hembusan nafas terakhirnya, beliau masih berseru:

“Kembalikan kehormatan keluargaku!”

Saya yakin Ibu pun mendengar jelas kalimat terakhir itu—dan takkan bisa melupakannya. Ya, dalam sisa-sisa nafasnya, beliau mengucapkannya tiga kali:

“Kembalikan kehormatan keluargaku! Kembalikan keormatan keluargaku! Kembalikan kehormatan keluargaku!”

Beliau sempat melirik ke arahku, yang saat itu berada di pelukan Ibu, sebelum beliau benar-benar meninggalkan kita untuk selamanya.

Ibu! Bukankah itu teramat menyakitkan? Kita kehilangan keduanya. Kalau kehormatan itu tidak kembali ke dalam kehidupan keluarga kita, lalu apa lagi yang bisa kita banggakan, betapa rendahnya keluarga ini. Aku tidak akan pernah berhenti mengutuki diriku sendiri, kalau kehormatan itu tidak berhasil aku raih kembali untuk keluarga ini. Aku bersumpah, Ibu. Demi langit, bumi, malaikat, jin, dan para leluhur yang bersemayam di hati, aku akan mengutuki diriku kalau kehormatan itu tidak kembali ke pangkuan keluargaku!”

Terdengar gemuruh langit menyambut sumpah seorang anak manusia. Langit begitu terkesan dengan pernyataan sungguh-sungguh dari Suro yang akan mengutuki dirinya. Pesan sumpah itu langsung sampai ke singgasana Sang Penguasa Langit. Segera saja sumpah itu ditindak lanjuti, disahkan oleh semua saksi yang disebut dalam teks asli sumpah tersebut. Sumpah itu juga sekejab menjadi obrolan menarik seisi langit.

Tak lama kemudian, melalui hujan, pesan sumpah itu segera turun membawa kabar, bahwa Sang Penguasa Langit telah mengetahui adanya sumpah itu. Sumpah itu mampir ke gunung, menyentuh pantai. Dan angin membawanya sampai jauh.

***

Ibunya tetap tidak memberikan respons berarti atas sumpahnya—yang dalam benak Suro akan meluluhkan rasa kasihan ibunya untuk memberikan restu dan melepaskan tubuhnya dari lilitan air mata benang itu. Ternyata itu tidak berhasil, air mata itu tetap saja mengalir, merambat melalui pakaian, dan menyeberang melilit teratur tubuh Suro.
Suro lama-lama tidak tahan, dan memang ia sudah tidak sabar lagi. Dia harus melepaskan diri dari belenggu halus tapi kuat itu, sebelum semuanya terlambat. Dia mulai mempersiapkan seluruh tenaga pada setiap lapis kulitnya. Gejolak amarah dari dada, dia sebarkan untuk mematangkan semua butiran tenaga yang telah dia persiapkan itu. Semuanya telah siap.

Tinggal menunggu aba-aba dari sorot mata.

Mata Suro menampakan bintik-bintik merah. Bintik merah itu bertambah semakin banyak dan akhirnya memenuhi seluruh bola matanya. Mata itu kemudian merah. Suro nampak seperti akan menangis. Bukan, bukan untuk menangis, sebab mata itu kemudian menyala. Ya, pertanda semuanya segera dimulai.

Tubuh Suro terguncang-guncang. Sekuat tenaga dia berusaha memutus benang-benang yang melilitnya. Tenaga di tubuhnya bergerak cepat, saling membantu, kadang-kadang menyatu di lengan, di bahu, di dada, di kaki, untuk bersama-sama mendobrak pertahanan air mata benang halus dan kuat itu. Tapi tetap saja tak mampu, meskipun gigi geraham telah pula gemeretak memberi semangat kepada semua tenaganya. Mata yang beberapa saat bisa berkobar itu pun perlahan pudar dan padam. Usaha itu hanya menyisakan butiran peluh di bawah matanya.

“Apa yang sebenarnya Ibu inginkan? Lepaskan saya!”

Lilitan air mata benang—atau benang air mata—itu telah membungkus sebagian besar tubuh Suro. Yang tersisa tinggal kepalanya. Itu pun sudah mulai nampak satu dua benang melilitnya. Dan air mata itu masih saja mengalir di antara kerut keriput garis kecantikan, mencipta dua aliran sungai kecil di pipi wanita itu. Terus.

“Lepaskan! Ibu tidak punya perasaan. Ibu telah menghalang-halangi harapan ayah. Itu berarti, Ibu telah menghianati ayah. Ibu telah menghianati keluarga ini. Ya, Ibu penghianat!”.

Air mata yang ujungnya menjadi benang itu semakin deras.

“Ya, sebenarnya kehormatan itu tidak mereka rampas dari kita, tetapi Ibulah yang telah menyerahkannya kepada mereka. Ibu bersekongkol dengan mereka.”

Sebagian wajah Suro tak tampak lagi, tertutup oleh lilitan air mata benang.

“Keparat! Wanita penghianat! Kau tak pantas disebut ibu. Kaulah yang telah merampas kehormatan itu. Kaulah yang telah membunuh ayah. Aku akan membalas”.

Air mata itu kini tidak saja keluar dari mata, melainkan juga dari lubang telinga, hidung, mulut dan seluruh pori-pori di kulit wanita itu.

“Aku akan membunuhmu wanita bangsat! Aku aghlkhh…..”

Tubuh Suro tenggelam dalam benang putih yang melilitnya rapi dan semakin kuat. Sementara itu, berpuluh-puluh, beratus, beribu, berjuta aliran benang keluar dari sekujur tubuh wanita yang menjadi sumber air mata benang, menyerang Suro.

Tidak hanya itu, kepala wanita itu tiba-tiba membuncah dan pecah. Dari dalamnya mengalir ribuan aliran benang mengarah ke Suro. Punggungnya juga menggelembung dan pecah mengeluarkan aliran benang. Dadanya, lengannya, perutnya, pahanya, dan semuanya pecah. Semuanya merambat ke arah Suro.

Suro tidak berbentuk Suro lagi. Dia kini nampak sebagai gulungan benang besar yang siap menggelinding ke arah mana saja. Ke arah mana saja.

Ciputat, 24 Desember 2001

Bapak Memanggilku Anak

Dari pedalaman Kalimantan, ia terbang menuju Jakarta. Aku terbaring tanpa daya di rumah sakit kota ini. Sebuah sepeda motor menabrakku, membuat darahku tercecer di jalanan. Entah dari mana informasi kecelakaan itu diketahui bapak. Tidak ada sambungan telepon ke kampung tempat tinggalnya, juga listrik. Tiga hari setelah kecelakaan, dia sudah berada di sini, di sisiku. Ia telah menunggui dan mengurusi semua kebutuhanku selama di rumah sakit. Aku tak sadarkan diri beberapa hari.

Beberapa hari kemudian, aku mulai siuman. Kubuka mataku pelan-pelan. Ada warna putih menutupi pandanganku, memberi kesan seakan dunia hanya putih. Perlahan warna putih memudar. Garis-garis putih dan sebuah bayangan ruangan silih berganti menampakkan diri di pelupuk mataku. Untuk kemudian garis-garis itu tersingkir oleh sebuah pemandangan ruangan yang sempurna. Wajah bapak menjadi salah satu unsur ruangan yang sempurna itu. Dia nampak sedih dan kebingungan. Betapa tidak, di rimba ibu kota yang sangat asing baginya ini, dia harus datang dan mengurusi keselamatan nyawa seorang anak manusia. Tidak ada keluarga tempat mengadu. Tidak ada tetangga yang bisa menolong.

Bapak datang sendirian. Kondisi ekonomi tidak memungkinkan ia mambawa ibu dan adik-adikku. Biaya terlalu mahal untuk itu. Belum lagi biaya pengobatan. Seminggu pertama, bapak masih sanggup memenuhi segala kebutuhan perawatanku, juga kebutuhan yang sesungguhnya tidak aku butuhkan, setidaknya tidak terlalu penting. Bapak menyediakan semuanya. Tapi tiga minggu selanjutnya, ia nampak mulai mengirit biaya. Beberapa kebutuhan yang tidak terlalu penting, mulai ia abaikan.

Akhirnya, bapak harus pulang juga, meninggalkan aku yang terbaring tanpa daya. Persediaan biaya sudah tidak memungkinkan. Ia menitipkanku kepada para perawat yang saban hari mengamati perkembangan kondisi kesehatanku. Sebelum berangkat, ia menggenggam tanganku. Ada harapan besar dari sorot matanya yang sedikit redup dan berkaca-kaca. Perlahan ia mengecup keningku. Air mata bening jatuh dari sudut matanya, merambat melewati kulit tua pipinya, dan berhenti di pangkal kumis yang telah memutih satu-satu.

Sekali lagi ia menatap ketakberdayaanku. Kemudian ia memperbaiki posisi selimut yang membungkus tubuhku. Sebelum benar-benar pergi, ia kembali menitipkan diriku ke para perawat untuk menjagaku. Langkah kaki bapak semakin menjauh dan hilang tenggelam dalam langkah-langkah kaki banyak orang di rumah sakit.

Mengikuti petunjuk seadanya, bapak berhasil mencapai pelabuhan. Bapak terpaksa pulang dengan kapal laut. Persediaan uang sudah tidak mencukupi untuk perjalanan pesawat terbang. Perjalanan kapal laut tentu sangat menjemukan. Apalagi dijalani oleh seorang yang diburu waktu, diburu waktu dan maut anak yang sangat disayanginya.

Tiga hari perjalanan, baru bapak sampai ke tempat tinggalnya di sebuah desa pedalaman. Bapak kemudian bergerilya mencari dukungan dan bantuan dana dari sanak keluarganya. Anaknya ini harus tetap hidup, karena dialah harapan satu-satunya yang bisa merubah garis keturunan keluarga. Sekian tahun aku dipersiapkan untuk merubah garis keturunan keluarga. Bapakku membesarkanku dengan segala kasih sayang, mungkin agar aku tumbuh cerdas. Dia kemudian menyekolahkan aku sampai setinggi langit bagi orang kampung. Bapak tidak mau kalau aku kembali masuk dalam lingkaran setan kehidupan kampung yang tidak maju-maju. Bapak belajar betul dari orang-orang kampung yang kehidupan keluarganya monoton. Bapak ingin aku berubah. Ia ingin aku jadi orang pintar atau jadi orang berpangkat, lalu kelak aku akan pulang kampung membawa sebuah angin perubahan. Kalau sekarang aku sakit, maka bagi bapak, ini harus segera diselesaikan. Aku harus berhasil mewujudkan cita-cita bapak, begitu pikirnya.

Hanya berselang seminggu, bapak telah kembali lagi ke Jakarta. Praktis hanya tiga hari ia di kampung: tiga hari perjalanan pulang dengan kapal laut, dan sehari kembali dengan pesawat terbang. Kali ini pun ibu dan adik-adikku tetap tidak ikut. Biaya tidak memungkinkan mereka ikut. Nyawaku lebih penting dari kehadiran mereka.

Bapak mendapatiku terbujur pingsan dengan selang-selang infus yang melilit di sekujur tubuhku. Wajahnya nampak lelah. Lelah sekali. Ada titik-titik peluh yang belum diseka di wajahnya. Sebentar lagi titik-titik peluh itu jatuh menimpa baju. Basah. Ia kemudian duduk di kursi. Tidur.

Dalam tidurnya, ia bermimpi berada di sebuah tempat yang sangat asing baginya: sebuah gurun yang sejauh mata memandang hanya terlihat pasir dan fatamorgana. Ia kebingungan berjalan kian kemari mencari sekedar tempat persinggahan. Tapi yang didapatinya hanya pasir dan hanya pasir. Mendadak dari kejauhan dia melihatku melambai-lambai memanggilnya. Seketika semangatnya tumbuh dan dia berlari ke arahku. Lalu aku menyambutnya dengan pelukan seperti sebuah pertemuan yang memang dinanti-nanti ratusan tahun. Kuberikan ia air minum. Kemudian kutuntun ke sebuah oase, yang ternyata di situ terdapat sebuah istana nan elok. Bapak mengamati istana itu dengan decak kagum tak henti-henti. Sebuah istana dengan pilar-pilar raksasa berlapis kuningan. Pintu gerbangnya menjulang tinggi, di atasnya ada kubah dua buah. Dindingnya berdiri kokoh. Alun-alun dengan taman yang luas. Sinar matahari bersepuh merah dan kuning terpantul dari kubah-kubah istana dan kolam yang mengelilinginya, seperti sebuah negeri dalam dongeng yang purba.

Dan betapa gembiranya bapak ketika kukatakan, bahwa itulah hasil dari jerih payahku selama ini. Ia tak kuasa menahan gemuruh suka citanya. Ia menatapku dalam-dalam tak percaya, lalu berteriak segirang-girangnya.

“Anakku berhasil! Anakku berhasil!”

Teriakan itu terlalu kuat dan mengundang dua orang perawat mendekat dan segera membuyarkan semua impian bapak. Bapak langsung siaga dan berdiri. Ia kemudian memandangiku. Aku masih terbujur pingsan tanpa daya.

Beberapa saat setelah bapak pulang mengambil tambahan dana, kondisi kesehatanku memang samakin memburuk. Aku semakin tak berdaya. Hidup dalam ketidaksadaran yang panjang. Aku layaknya seonggok sampah yang tidak punya arti. Dan bapaklah yang membuatku sedikit berarti. Semangat bapak yang ingin melihatku tetap hidup dan sehat seperti sedia kala itulah yang menjadi satu nilai tersendiri bagi diriku yang terbaring tak berdaya. Aku tidak tahu pasti, apakah itu memang naluri kebapakan seorang bapak kepada anaknya, ataukah ia berlaku unik khusus untuk bapakku dan beberapa bapak orang lain seperti bapakku?

Kegigihan bapak sangat luar biasa. Dan nampaknya dia yakin betul bahwa aku akan segera pulih. Seringkali dia tidak tidur beberapa hari hanya untuk menyiapkan segala hal yang menyangkut kebutuhan perawatanku. Kadang-kadang juga ia tidak tidur hanya untuk mengamat-amatiku saja. Kalaupun terpaksa tidur karena ketiduran, maka ketiduran itu akan sangat singkat. Ia akan segera terjaga oleh satu suara dariku. Mandi, pakaian, dan makannya tidak teratur. Dia memang sering tidak merasa lapar dalam waktu yang lama. Ia menjagaku sepanjang waktu. Sampai akhirnya ia benar-benar harus makan, itupun sangat sedikit, untuk bisa bertahan menjagaku. Sebetulnya, pada beberapa waktu dia juga sakit. Tapi dia berusaha menahan sakitnya dan tidak menampakkannya, barangkali karena semangat dan harapan yang menggebu-gebu tadi.
Tiga bulan berlalu tak terasa. Bapak masih tetap menungguiku, menjaga, dan merawat kesehatanku. Tiga kali sudah dia pulang kampung mengambil tambahan dana. Kepulangannya yang terakhir telah menghabiskan harta bapak di kampung. Dia menjual semua ladang, dia hanya menyisakan sepetak kecil agar keluarga di kampung juga masih bisa bertahan hidup. Aku tidak tahu pasti, dengan apa keluarga di kampung memenuhi semua kebutuhan mereka. Sepetak tanah itu tidak akan cukup. Mungkin ibu mencari tambahan pekerjaan. Mungkin adik-adikku juga bekerja keras mencari tambahan penghasilan. Tentu saja mereka bekerja. Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Lalu bagaimana dengan kesehatan ibu? Ahh!

Meminta bantuan kepada tetangga dan sanak famili sudah tidak memadai. Mereka ternyata memiliki keterbatasan dalam soal bantu membantu kepada keluarga yang sedang tertimpa musibah. Dan sebetulnya banyak juga yang memandang bapak terlalu berlebihan merawatku; bapak telah melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya, bahkan kemampuan seluruh keluarga. Perawatan rumah sakit di kota bukan main mahalnya. Ada yang mengusulkan agar aku dipulangkan ke kampung saja untuk dirawat secara tradisionl. Di kampung banyak orang pintar yang bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Banyak orang yang bahkan lebih memilih pengobatan tradisional daripada rumah sakit. Kata mereka, rumah sakit kadang-kadang hanya mengandalkan peralatan dan analisa medis, tanpa mengetahui analis yang sifatnya supranatural. Sementara pengobatan tradisional menembus batas-batas ragawi dan mampu melihat penyakit yang lebih substansial di kedalaman kehidupan ruh seseorang. Barangkali malah ada yang menginginkan aku ditinggalkan saja, karena memandang tidak ada gunanya lagi merawatku. Toh aku sudah tidak punya harapan untuk hidup. Mengharapkan lebih banyak dari orang sakit sepertiku adalah kesia-siaan. Bukan harapan yang bakal terpenuhi, malah penyesalan, bahkan melibatkan kerugian banyak orang. Dan tentu ada juga yang tidak memberikan nasehat apa-apa, acuh tak acuh terhadapku. Mereka menganggap aku bukan apa-apa. Membicarakan aku juga merupakan kesia-siaan dan membuang-buang waktu. Aku tidak ada. Mungkin pernah ada, tapi telah hilang.

Tapi ternyata bapak bukan tipe orang yang gampang menyerah. Harapannya masih besar, seperti tak pernah pudar oleh perjalanan waktu. Bahkan bapak memiliki satu tekad baja, bahwa dia memandang kehidupannya tak akan berguna tanpa kehadiranku. Hanya saja, kondisi bapaklah yang semakin tidak karuan. Wajahnya telah dipenuhi bulu yang teramat telat dipotong. Pakaiannya kumal dan kotor. Tubuhnya mengurus. Penampilannya nampak lebih tua 15 tahun dari usianya.

Masa penantian itu memang melelahkan. Tapi bapak seperti tidak pernah lelah menunggui kesehatanku. Pengabdian bapak kepada anaknya ditunjukkan sepenuh hati. Kini ia tidak mau meninggalkanku sejenak pun. Ia merasa, sebentar lagi aku akan pulih; sebentar lagi aku akan kembali bisa bicara dan bertukar pikiran dengannya. Bagi bapak, meninggalkanku sejenak adalah sebuah kerugian yang luar biasa. Bapak tidak ingin meninggalkan moment penting dalam sejarah hidupnya, moment dimana aku, anaknya ini, perlahan-lahan membuka mata, menggerakkan jemari dan melambai, lalu berucap kata kepada bapak. Bapak ingin menjadi orang yang pertama yang terlihat olehku, ketika aku mulai membuka mata dan melihat seisi dunia lagi. Ingin aku kembali bercakap-cakap dengannya membicarakan berbagai masalah, mulai dari masalah keluarga, pelajaran, kisah cinta, sampai kepada masalah politik mutakhir yang ada di berita televisi dan radio. Bapak ingin melihat aku menikah dan punya anak. Bapak ingin melihat aku mulai berhasil mewujudkan cita-citanya tentang sebuah perubahan garis keturunan keluarga. Bapak ingin aku mengangkat harkat dan martabat seluruh keluarga. Bapak ingin aku bahagia sebagai orang besar. Bapak ingin melihat aku jadi raja. Bapak ingin…

Kondisi bapak semakin parah. Ia benar-benar sudah tidak memperhatikan keadaan dirinya. Ia menunggui kesehatanku dengan tidak memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Pakaiannya semakin kusam dan kumal. Tubuhnya kini tinggal tulang berbalut kulit. Kulit yang itu pun telah dipenuhi berbagai jenis penyakit. Pertahanan tubuhnya anjlok ke titik kritis. Berbagai hantu penyebar penyakit datang menyerangnya dengan leluasa. Mereka berpesta pora di tubuh bapak.

Bapak tetap pada harapannya. Dia menunggui satu moment dimana aku bisa pulih. Akhirnya bapak tidak bisa bergerak lagi. Dia juga tak bisa makan dan mencerna lagi. Tubuhnya menolak segala makanan. Seluruh sistem kehidupan dalam tubuhnya telah kaku.

Jasad yang tinggal tulang itu tetap menunggu satu moment dimana aku bisa pulih. Bapak benar-benar tidak pulang kampung lagi.

Ciputat, 10 Oktober 2003