Bukan Fundamentalisme yang Menguat

Dimuat geotimes.co.id, 24 Juni 2017.

Setelah Pilkada DKI Jakarta 2017, muncul perbincangan publik mengenai dugaan semakin menguatkan kelompok anti-demokrasi berbasis agama. Demokrasi dianggap berada di dalam ancaman menyusul semakin solidnya kelompok fundamentalis. Hasil Pilkada DKI Jakarta ditengarai sebagai kemenangan kelompok tersebut.

Kesimpulan ini muncul menyusul beberapa praktik intimidasi dalam proses pilkada, antara lain bertebarannya spanduk-spanduk tentang larangan memilih pemimpin berbeda agama, bahkan ancaman tidak menyalatkan jenazah pendukung calon lain agama. Kampanye dengan menggunakan rumah ibadah dalam acara-acara peribadatan rutin menambah besar kekhawatiran tersebut. Continue reading “Bukan Fundamentalisme yang Menguat”

Kebebasan dan Demokrasi Kebablasan

Dimuat Kompas, 16 Maret 2017, h. 7.

Presiden Joko Widodo menyatakan, demokrasi di Indonesia saat ini sudah kebablasan. Pernyataan dalam pidato saat pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Partai Hati Nurani Rakyat (22/2) itu menjadi perbincangan publik.

Demokrasi dianggap sudah sampai ke titik maksimal, bahkan melampauinya. Karena itu, yang terjadi adalah kondisi demokrasi yang tidak ideal atau bahkan kekacauan. Apakah kesimpulan ini memiliki dasar teoretis dan mencerminkan pendapat umum? Continue reading “Kebebasan dan Demokrasi Kebablasan”

Publik DKI Menilai Relokasi Mensejahterakan Warga Miskin

Salah satu isu yang dipakai para penantang Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah soal relokasi. Agus Yudhoyono menyatakan bahwa relokasi bukan satu-satunya solusi. Dalam sebuah kesempatan, dia bahkan menyebut bahwa ada banyak kota yang dibangun dengan sistem terapung.

Sementara Anies Baswedan berkali-kali menegaskan penolakannya pada relokasi. Dalam debat pertama, 13 Januari 2017, Anies menyebut soal komitmen untuk tidak melakukan relokasi warga seperti yang terjadi di era gubernur DKI Jakarta periode ini.

Yang menarik adalah bahwa meskipun dijadikan senjata oleh pihak penantang untuk menyerang petahana, isu relokasi di tengah masyarakat ternyata tidak negatif. Dalam survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis 25 Januari 2017, mayoritas warga DKI justru memandang program relokasi adalah bentuk upaya gubernur mensejahterakan warga miskin. 56 persen publik DKI menilai relokasi adalah upaya Gubernur mensejahterakan warga miskin. Angka ini naik 2 persen dari survei yang diselenggarakan sebulan sebelumnya. Continue reading “Publik DKI Menilai Relokasi Mensejahterakan Warga Miskin”

Ahok-Djarot di Jalur Kemenangan

Basuki Tjahaya Purnama – Djarot Saiful Hidayat memantapkan diri sebagai kandidat yang paling potensial memenangi pertarungan Pilkada DKI Jakarta 2017. Kesimpulan ini muncul dari hasil survei mutakhir Indikator Politik Indonesia yang dirilis hari ini, 25 Januari 2017.

Pada survei itu, pasangan Ahok-Djarot mengantongi suara 38,2 persen, jauh mengungguli dua pasangan penantang, Agus-Sylvi dan Anies-Sandi. Kedua pasangan penantang ini bersaing ketat di angka 23,6 persen untuk Agus dan 23,8 persen untuk Anies. Jarak dua pasangan ini terlalu kecil sehingga tidak bisa dijelaskan mana di antara mereka yang unggul dari yang lain secara statistik. Continue reading “Ahok-Djarot di Jalur Kemenangan”

Mimpi Ahok di Kepulauan Seribu

Menarik membicarakan perhatian Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama, pada Kepulauan Seribu. Wilayah ini lama tak tersentuh pembangunan. Penduduknya hanya sekitar 3 % dari total populasi DKI Jakarta. Dalam hitung-hitungan politik biasa, perhatian Ahok ke wilayah itu kurang memberi dampak elektoral secara langsung.

Pemerintah provinsi DKI Jakarta tidak memandang sebelah mata wilayah ini. Di sini yang berlaku bukan kalkulasi politik electoral biasa, tapi pembangunan Jakarta secara menyeluruh. Kepulauan Seribu adalah bagian integral dari provinsi ini, bahkan memegang peranan yang sangat krusial dalam sukses pembangunan Jakarta di masa depan. Ahok memiliki mimpi besar di Kepulauan Seribu. Continue reading “Mimpi Ahok di Kepulauan Seribu”

Rekening Ahok di Rumah Susun

Vokalis band Nidji, Giring Ganesha, mendapati seorang langsia penghuni rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Jatinegara Barat yang tidak mampu membayar sewa. “Tapi tebak siapa yang membayarin? Uang pribadinya Ahok.,” kata Giring.

Rusunawa ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perumahan kelompok masyarakat lapisan paling rentan di Jakarta. Kelompok paling rentan itu antara lain warga yang selama ini tinggal di atas bantaran sungai, danau, pasar, samping rel atau kolom-kolom jembatan. Selain mereka tinggal di atas lokasi yang tidak diperuntukkan sebagai tempat tinggal, mereka juga adalah kelompok warga yang paling miskin.

Namun begitu, rumah-rumah susun tersebut tidak diberikan secara gratis. Ada sewa sekitar 10 ribu rupiah per-hari atau 300 ribu rupiah per-bulan. Perihal sewa inilah yang sering menjadi sasaran kritik. Continue reading “Rekening Ahok di Rumah Susun”

Siapa Bermain di Isu Anti-Cina?

Sentimen Sinophobia (anti-Cina/Tionghoa) belakangan ini marak muncul di media sosial. Mulai dari isu masuknya jutaan pekerja asal Tiongkok. Ada pula pembicaraan bahwa sesungguhnya sebagian mereka adalah tentara. Gossip lain menyebut bahwa Indonesia akan menghapus rupiah dan menggantinya dengan mata uang Tiongkok, Yuan. Tanda-tanda ke arah itu, menurut gossip tersebut, mulai terlihat dari gambar di uang kertas terbaru yang dibayangkan mirip dengan palu dan arit.

Walaupun gossip dan issue itu satu persatu terbukti tidak berdasar, namun terus berhembus di masyarakat. Tidak sedikit yang termakan. Continue reading “Siapa Bermain di Isu Anti-Cina?”

Mengapa Program 1 M Setiap RW Ditolak

Salah satu program utama yang dikampanyekan secara massif oleh pasangan Agus-Sylvi pada Pilkada Jakarta kali ini adalah tentang rencana bagi-bagi uang negara 1 milyar untuk tiap RW tiap tahun. Rencana ini menjadi bahan perbincangan publik belakangan ini.

Pertanyaan yang muncul antara lain adalah apakah kebijakan cash transfer semacam itu akan membawa dampak perubahan perilaku pada publik penerima program? Kebijakan sosial model transfer langsung banyak dihindari terutama karena kebijakan semacam itu dinilai tidak mendidikan atau setidak-tidaknya tidak memiliki daya dorong pada perubahan perilaku. Continue reading “Mengapa Program 1 M Setiap RW Ditolak”

75% Warga DKI Puas dengan Kinerja Ahok

75 persen warga DKI Jakarta mengaku puas dengan kinerja petahana Basuki Thahaya Purnama membangun Jakarta. Angka ini diperoleh dari hasil survei opini publik yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (Saiful Mujani) yang dipresentasikan siang ini di Jakarta.

Approval rating atau tingkat kepuasan publik ini meningkat cukup tajam dari hasil survei satu bulan sebelumnya, 69 persen. Sementara yang tidak atau kurang puas hanya sekitar 24 persen. Dengan ungkapan yang lain, dari 10 orang di DKI Jakarta, 7 sampai 8 orang di antaranya puas dengan kinerja Ahok sejauh ini. Continue reading “75% Warga DKI Puas dengan Kinerja Ahok”

Tangis Ahok

Dalam persidangan tadi, Ahok menangis karena dituduh menista Kitab Suci dan agama Islam. Menurut Ahok, itu sama saja dengan tuduhan bahwa dia menghina kitab suci dan agama orang tua angkat dan saudara angkat yang sangat ia sayanyi dan menyayangi dirinya.

Ahok adalah anak angkat Andi Baso Amir, mantan Bupati Bone, yang sekaligus adik kandung Alm. Jenderal TNI M. Yusuf. Jend. M. Yusuf sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati di Sulawesi Selatan. Namanya diabadikan sebagai nama masjid termegah se-Asia Tenggara, Al-Markaz Al-Islami Makassar. Continue reading “Tangis Ahok”