Berburu

 

Aku melihat fasis bergerak berderap-derap

di permukaan kerak bumi yang padat

Mereka mengubah khutbah menjadi senjata

dan biji-biji tasbih menjadi peluru.

 

Berdirilah

Berkobar-kobar semangatmu

Berapi-api jiwamu

Ambil tahiyat terakhir

Patahkan di udara

Di depan sana menunggu orang-orang serakah.

 

Mereka bergerak berderap-derap

Mereka membunuh membunuh membunuh

Merampok kedamaian

Memperkosa kebebasan

Membakar dunia.

 

Tapi, hari ini kita angin menderu-deru

Songsonglah dan terbitkan gentar di hati mereka

Jungkalkan sujud-sujud mereka

Pecahkan takbir di kepala mereka.

 

Mereka bergerak berderap-derap

Kita gelombang gemuruh

Berburu berburu berburu.

 

Jakarta, 19 November 2009

Telaga di Matamu Memancarkan Pagi

 

Telaga di matamu memancarkan pagi

tak habis-habis kupandangi

aku ingin menggigil telanjang di sana

 

Bau cendana di putih susumu

kuhirup kuhirup kuhirup

 

Aku ingin rebah

di bulu halus kulit perutmu

 

Jakarta, 16 November 2009

Pada Sebuah Karnaval

 

Pada sebuah karnaval senja yang tak rapi

seorang ibu menepi di jalan tersisih

berdiri

Ia pasrahkan rintik hujan

semena-mena menggempur wajahnya

Sementara angin menelusuk masuk

tanpa bisa ia kenali

 

Di seberang jalan,

orang-orang di tepi

Merokok tak tahu diri

Menebar racun di angin lirih

Rencananya busuk tak punya hati

Membunuh entah siapa lagi

 

Jakarta, 10 November 2009

Laki-laki, Perempuan, dan Buku Tua

 

Laki-laki dengan jidat hitam penyok

Membasuh mata, telinga, dan tumit

Akalnya selambat bekicot

Bersimpuh

Menyeruduk seperti babi yang kikuk

 

Perempuan berwajah takluk

Berdiri dengan lutut setengah ditekuk

Rambutnya busuk

Di balik taplak dibekuk

 

Buku tua lusuh dari negeri yang jauh

Sampulnya kusut kulit belut

Dibawa saudagar dan angin laut

Di sini menebar benci berlagak suci

 

Aku geli dikerubut curut

 

Jakarta, 9 November 2009

Kisah Para Pemburu

 

Mahasiswa-mahasiswa berlarian ke jalan raya

Politisi-politisi mulai tumbuh sayapnya

Terbang bersangga udara

Ada yang hinggap di bubung rumah

Berceracau tentang kartel dan buru rente

 

Kepala batu-kepala batu

Bagaimana hendak kusebut engkau

Sedang di fesbuk mukamu buruk

 

Jakarta, Oktober 2009

Ode Sunyi

 

Ada yang tampak enggan

seolah semuanya adalah tubir

tak ada waktu sekedar berpaling

menunggu jatuh kepada bayang yang jauh

 

Ada yang tampak risau

seolah semuanya adalah tepi

yang kekal hanya masa lalu

dan hayal tak ada lagi

 

Ada yang tampak ragu

ketika janji menjadi kering

dan harapan tinggal ilusi

 

Pondok Indah, 25 April 2007

Pram

 

dari satu epik sejarah yang tidak pendek

apa yang masih mungkin diterima?

kerap hanya terpaku: sesekali menengadah angkasa

semacam ratapan yang menyumbat tenggorokan

 

telah terbaring di sini cita-cita masa depan

dari kepurbaan manusia

 

aku tak sanggup menitikkan air mata

si kerempeng menyatu dengan bumi

di atas mana jejak langkah manusianya benar-benar manusia

 

tidak, kau bukan dewa, kau bukan tuhan

 

revolusi harus dimulai, katamu

dan, jangan pernah bermimpi untuk berhenti

dalam setiap belenggu, bergeraklah

ikuti arah angin

rebut kebebasan yang tersisa

dengan segala daya yang sebentar lagi habis

 

ya, kamerad…..

jalan perang mungkin lebih baik daripada dinista

 

gadis pesisir jawa itu telah datang

memberimu sepucuk surat:

 

“telah kutitipkan rinduku di awan

yang kelak berpendar dan hilang

pulanglah menjelma di putih itu

sebelum semburat langit merubahnya jingga

 

birahi malam mengendap dalam kelam hampa

bersama senja yang tak bersisa

dan igau yang berhenti di titik cakrawala merah”

 

Ciputat, 12 Juni 2006

Sajak Puisi

 

Akan kutulis puisi ini seindah mungkin. Malam ini begitu kelam. Semuanya serba pekat seperti bayang-bayang purba. Hanya tersisa bias satu dua bintang mengerdip malu-malu di sela-sela awan yang siap tumpah ke bumi. Inilah titik tersunyi dari satu sisi kehidupan. Semilir angin sepoi malam menerpa wajah, mengantarkan titik air. Basah.

Puisiku runtuh setengah jadi, tapi kurasakan kelenjar berpikirku telah berhenti bekerja. Tanganku sekarang hanya memegang pulpen, memutar-mutarnya di antara jari jemari, mengantarnya kemulut, kugigit ujungnya. Aku bingung, apa lagi yang hendak kutuangkan dalam kertasku? Aku telah menulis dua baris puisi sebagai ungkapan rasa. Tapi aku merasakan masih ada yang tersisa. Puisi sepenggalku itu belum mewakili seluruh apa yang berkecamuk di hatiku. Aku baru mengungkapkan riak-riaknya, tapi belum sampai pada kedalaman gelombangnya.

 

Ciputat, 2005

Gong

 

Sebuah gong di puncak sebuah bukit menggelegarkan sebuah suara, ditabuh. Suara gong di sebuah bukit itu menyebar menembus udara, memekakkan telinga, memantul di dinding-dinding tebing, menyisakan gema, terdengar sampai jauh.

 

Akan kuceritakan kepadamu kisah sebuah gong yang kini ditabuh dan terdengar sampai jauh. Jauh sebelum ia ditabuh dan terdengar sampai jauh.

 

Ciputat, 2005

Ranggas

 

Kau tahu kita di sini hanyalah bayangan yang tampak dan juga akan lenyap seperti angin entah kemana. Kau tahu kita di sini bukan apa-apa. Berapa malam yang telah melewati kita di sini, tak jua satupun yang menganggap kita benar-benar ada. Karena kita adalah bayangan. Seperti pepohonan itu, kita ranggas dan mengering.

 

Sabtu pagi seminggu yang lalu, kuceritakan padamu tentang seorang tua yang datang kemari. Tidak jelas benar apa yang ia tuju. Ia hanya datang, duduk, menangis, lalu pergi. Beberapa saat setelah si tua itu pergi, datang lagi si tua yang lain. Tak jelas juga apa maunya. Ia datang, duduk, merokok, kentut, menangis, lalu pergi. Apa yang mereka maksud dengan menangis? Bahasa apa itu?

 

Pagi tadi, dua tua itu datang lagi kemari. Mereka menangis lagi. Ada apa? Ingin kutanyakan padanya, andai angin dan embun tak membuatku ragu.

 

Ciputat, 2005