Ahok-Djarot Unggul di Semua Debat Publik

Survei terakhir yang diadalah Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan pasangan Basuki Tjahaya Purnama – Djarot Saiful Hidayat kembali memimpin dukungan publik dengan 34,8 persen suara jika Pilkada dilakukan sekarang. Urutan kedua ditempati pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno dengan perolehan suara 26,4 persen. Sementara posisi terbawah kini ditempati Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni dengan 22,5 persen suara.

Hasil survei ini menunjukkan pilihan warga DKI Jakarta bergerak dinamis. Ahok-Djarot menunjukkan peningkatan signifikan dibanding survei sebulan sebelumnya. Sebaliknya, dukungan pada Agus-Sylvi mengalami penyusutan yang cukup dalam. Sementara dukungan publik pada Anies-Sandi relatif stabil dengan peningkatan yang tidak cukup signifikan.

Debat publik menjadi faktor utama yang dinilai berperan paling penting dalam perubahan pilihan warga DKI pada Pilkada DKI Jakarta menjelang hari pemilihan. Demikian salah satu kesimpulan dari hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada 27 Januari 2017 itu. Secara keseluruhan, 88 persen publik DKI menilai debat kandidat penting atau sangat penting untuk mengetahui dan menilai program kerja calon gubernur-wakil gubernur Ibukota Jakarta. Continue reading “Ahok-Djarot Unggul di Semua Debat Publik”

Jangan Takut!

Sumber: http://bit.ly/K1FZiD

Banyak sekali orang yang berpikiran maju, tapi mereka enggan angkat bicara. “Kita harus melangkah melampaui ketakutan itu, go beyond the fear,” kata Manji. Persoalannya bukan kenapa ketakutan itu muncul. Tapi bagaimana kita mampu melewati dan mengabaikannya.

Irshad Manji menolak berdiri di podium. Ia ingin bicara sambil duduk. Ia tidak mau acara itu menjadi acara pidato. Dia ingin berdiskusi dan bertukar gagasan. Setiap orang boleh mengemukakan pendapat, bertanya, atau berkomentar apapun.

Acara malam 4 Mei 2012 itu cukup meriah. 150 orang hadir. Mereka mendaftar. Dua hari sebelum acara, panitia sudah mengumumkan bahwa seluruh kursi sudah penuh. Mereka yang datang di hari H terpaksa masuk dalam daftar tunggu. Kebanyakan yang hadir malam itu adalah anak-anak muda. Continue reading “Jangan Takut!”

Gerakan Politik Fundamentalisme

Picasso
Picasso

Sebelumnya dimuat di www.islamlib.com

Fundamentalisme tidak terkait dengan satu agama. Ia ada pada semua agama. Demikian Prof. Dr. Thomas Meyer (Universitas Dortmund, Jerman) mengenai salah satu karakter fundamentalisme. Pandangan itu dikemukakan dalam ceramah dan diskusi publik bertajuk “What is Fundamentalism?” 22 November 2011. Acara ini diselenggarakan oleh Jaringan Islam Liberal berkerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung. Selain Thomas Meyer, hadir pula Ulil Abshar-Abdalla sebagai pembanding.

Pada kesempatan itu, Thomas Meyer mengemukakan Sembilan karakter fundamentalisme. Pertama, fundamentalisme merupakan gejala yang ada di semua agama. Ia tidak terkait dengan agama tertentu. Bahkan sebenarnya fundamentalisme hanya salah satu cara memahami agama. Continue reading “Gerakan Politik Fundamentalisme”

Kemenangan Argumen: Laporan Diskusi Freedom Institute

Dimuat di www.freedom-institute.org

Hubungan negara dan agama merupakan isu yang cukup tua di Indonesia. Pada setiap pembahasan mengenai hubungan negara dan agama, biasanya dua kubu selalu diperhadapkan. Di satu kubu berdiri kaum agama yang diandaikan sepenuhnya menolak ide pemisahan agama dan negara. Sementara ada kubu di seberangnya yang memiliki pandangan berbeda.

Diskusi Freedom Institute, 11 Agustus 2011, mencoba mengekplorasi perdebatan di kalangan kaum agama (Islam) sendiri mengenai isu hubungan negara dan agama, khususnya negara Islam. Diskusi ini sendiri membahas satu buku baru yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie, Ideologi Islam dan Utopia: Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia.” Buku tersebut awalnya adalah disertasi penulis yang diajukan di Universitas Melbourne. Hadir dalam diskusi ini dua orang narasumber: Kuskrido Ambardi (Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia) dan Ulil Abshar-Abdalla (Direktur Freedom Institute).

Ulil mengakui bahwa buku tersebut sangat baik menerangkan perkembangan pemikiran di kalangan tokoh-tokoh sentral Islam di Indonesia pasca kemerdekaan. Pertanyaan utama yang ingin dijawab oleh Luthfi adalah kenapa pada tahun lima puluhan para pengusung Islam politik sangat besar (43% pada Pemilu 1955), tapi empat puluhan tahun kemudian menurun drastis (14% pada Pemilu 1999)?

Ulil memulai pemaparan dengan memberi pembedaan antara “tipologi” dan “model.” Bagi Ulil, yang dicari dalam “tipologi” adalah ilusi. Sementara sasaran “model” adalah “utopia.” Buku karya Luthfi itu sedang berusaha menjelaskan tiga utopia mengenai negara Islam dan demokrasi yang berkembang dalam pemikiran tokoh-tokoh Islam Indonesia.

Utopia pertama muncul dari kalangan pengusung negara Islam. Kelompok ini diwakili oleh tokoh-tokoh yang bergabung dalam Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Mereka antara lain adalah M. Natsir, Zainal Abidin Ahmad, Mohamad Roem, Abu Hanifah, Hamka, dan Muhammad Rasjidi. Luthfi Assyaukanie menyebut utopia model ini sebagai Negara Demokrasi Islam (NDI).

Meski kelompok pertama ini mengusung gagasan negara Islam, tapi negara yang mereka bayangkan sebagai model bukanlah Pakistan, Iran, apalagi Arab Saudi, melainkan Belanda, Swedia atau Inggris. Kelompok ini secara cerdik mengemukakan sejumlah argumen yang menyatakan bahwa gagasan negara Islam tidak sama sekali bertentangan dengan demokrasi. Kenyataannya, para pendukung model ini adalah mereka yang juga sangat getol mendukung demokrasi ketika demokrasi terancam oleh kediktatoran rezim Soekarno dan ancaman totalitarianisme komunis.

Utopia kedua adalah Negara Demokrasi Agama (NDA). Kelompok ini didukung oleh tokoh-tokoh semacam Amin Rais, Syafi’i Ma’arif, Kuntowijoyo, Dawam Rahardjo, Sahal Mahfudz, Ali Yafie, Achmad Siddiq, Munawir Syadzali, dan Adi Sasono. Kelompok ini memiliki pandangan yang lebih terbuka dibanding kelompok pertama. Mereka tidak mendukung pendirian negara Islam, sebagaimana yang diusung kelompok pertama. Tapi mereka memperjuangkan pemberian hak yang sama bagi semua agama untuk memberi inspirasi bagi negara. Sebagaimana kelompok pertama, mereka juga menolak konsep pemisahan negara dan agama. Itulah sebabnya mereka menganggap tidak ada persoalan dengan UU yang bersifat keagamaan.

Utopia ketiga adalah Negara Demokrasi Liberal (NDL). Model ini terutama diusung oleh tokoh-tokoh Muslim seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, dan Harun Nasution. Kelompok ini secara tegas mendukung gagasan sekularisme. Bagi mereka, negara adalah institusi rasional yang juga harus dikelola dengan menggunakan kalkulasi rasional.

Meski utopia ketiga semakin meninggalkan gagasan negara Islam, tapi justru kelompok inilah yang memiliki argumentasi yang lebih mengakar pada tradisi Islam. Para tokoh pendukungnya adalah sarjana-sarjana Muslim yang paling serius. Mereka memiliki semua perangkat keilmuan Islam. Tapi pada saat yang sama mereka juga menguasai khazanah intelektual Barat.

Yang menarik bahwa meski ketiga utopia ini memiliki pandangan yang berbeda dalam hal hubungan negara dan agama, tapi ketiganya adalah pendukung demokrasi. Ulil menggarisbawahi bahwa bahkan tokoh-tokoh Masyumi (model I) pun merupakan pendukung demokrasi. Kelompok ini tidak bisa dibandingkan dengan HTI (pengusung negara Islam kini). “Jauh,” tegas Ulil.

Pada diskusi kali ini, Dodi Ambardi lebih banyak memberi masukan dan kritik terhadap doktrin negara Islam. Menurut Dodi, salah satu kelemahan fatal pengusung negara Islam adalah bahwa mereka gagal menempatkan warga non-Muslim setara dengan warga Muslim. Bentuk negara seperti itu pastilah diskriminatif, dan itu menyalahi semangat negara modern.

Nirwan Ahmad Arsuka, dalam sesi komentar, memberi semacam kesimpulan dalam bentuk pertanyaan mengenai kemungkinan teori evolusi diterapkan dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Ulil mengamini pendapat Nirwan tersebut. Sebetulnya Luthfi Assyaukanie, melalui bukunya, sedang mencoba memotret perjalanan evolusi pemikiran Islam Indonesia di tangan tokoh-tokoh utamanya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam evolusi tersebut adalah bentuk nyata dari kemenangan argumen. Argumen-argumen barulah yang menjadikan pengusung negara Islam semakin terdesak ke pinggir.

Filsafat Cahaya Suhrawardi dan Sejumlah Kritiknya

www.islamlib.com, 24 Agustus 2010

Tadarus Ramadan Jaringan Islam Liberal hari kedua mengangkat pemikiran Syaikh Syihabuddin Abul Futuh Yahya Suhrawardi al-Maqtul (1144-1234). Muhammad al-Baqir (dosen ICAS Jakarta) dan Ulil Abshar-Abdalla (JIL) menjadi narasumber. Diskusi ini dipandu oleh Taufik Damas (alumnus universitas al-Azhar, Mesir).

Suhrawardi al-Maqtul adalah seorang sufi yang mencoba memaparkan gagasan sufismenya secara filosofis. Itulah sebabnya, menurut al-Baqir, Suhrawardi dikenal sebagai seorang teosof atau yang mengajarkan sufisme dan filsafat sekaligus. Continue reading “Filsafat Cahaya Suhrawardi dan Sejumlah Kritiknya”

Misi Kenabian Gerakan Pembaruan

www.islamlib.com, 1 September 2010

Gagasan mengenai pembaruan Islam masih sangat relevan. Wacana ini bergulir dalam diskusi bertajuk “Pembaruan Tanpa Apologia” di Wisma Bina Marga, Bandung, 21/08/2010. Diskusi ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Friedrich Naumann Stiftung (FNS). Diskusi ini dimaksudkan untuk membahas gagasan pembaruan Ahmad Wahib, salah satu tokoh HMI era 1960an.

Novriantoni Kahar (Jaringan Islam Liberal) mengawali diskusi dengan memaparkan sejumlah hasil kajian terhadap fenomena masyarakat Islam kini. Novri menyebut sebuah jargon “al-Islam wahidan wa muta’addidan” (Islam itu satu dan berbilang). Menurut Novri, saat ini, wacana keislaman dikuasai oleh Islam elit (Islam as-Saasah). Islam elit biasa juga disebut sebagai Islam panggung (al-Islam al-masrahi). Para Muslim panggung adalah mereka yang menjadikan Islam sebagai kendaraan politik semata. Sebenarnya mereka tidak terlalu suka dengan segala aturan agama yang ketat. Mereka hanya menggunakan agama sebagai alat pencitraan. Continue reading “Misi Kenabian Gerakan Pembaruan”

Scripture Minded dalam Pendidikan Agama Kita

Pendidikan agama pada sekolah di Indonesia sejatinya adalah upaya untuk menciptakan manusia Indonesia yang bermartabat. Tujuan pendidikan agama ini tertuang secara eksplisit dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Belakangan, tujuan mulia itu tercoreng oleh dampak negatif dari sistem pendidikan agama yang berlaku di sekolah-sekolah selama ini. Terorisme dan gejala fundamentalisme agama adalah bukti kegagalan pendidikan agama menciptakan manusia Indonesia yang bermartabat. Pendidikan agama justru menyuburkan konservatisme dan radikalisme.

Diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL) mengupas sejumlah persoalan yang melingkupi pendidikan agama di Indonesia. Acara ini diselenggarakan di Teater Utan Kayu, 25 Mei 2010. Pdt. Albertus Patty dan Ulil Abshar-Abdalla hadir sebagai pembicara. Continue reading “Scripture Minded dalam Pendidikan Agama Kita”

Discussion on Islam and Capitalism

islamlib.com

by Saidiman and Malja Abror

First Day Discussion: Islam’s Response upon Capitalism
Teater Utan Kayu, Jakarta, 23 March 2009

The first discussion about “Islam and Capitalism”, 25 March 2009, analyzed the debates over relation between Islam and capitalism. M. Dawam Rahardjo (Director of Lembaga Studi Agama dan Filsafat) and Luthfi Assyaukanie (Chairman of Jaringan Islam Liberal) presented their papers before 70 participants of discussion. Continue reading “Discussion on Islam and Capitalism”

Agresifitas Ashabiyyah:Mengaji Teori Politik Ibn Khaldun

Reportase Tadarrus Ramadan JIL, 28 Agustus 2009

 

Pertanyaan tentang apakah teori ashabiyyah Ibn Khaldun memiliki relevansi dalam perdebatan teori-teori politik modern mengemuka pada tadarrus Ramadan Jaringan Islam Liberal kedua, 28 Agustus 2009. Tadarrus kedua ini menghadirkan Dr. Luthfi Assyaukanie (Jaringan Islam Liberal) dan Akhmad Sahal, MA (Pennsylvania University, AS) sebagai pembicara. Continue reading “Agresifitas Ashabiyyah:Mengaji Teori Politik Ibn Khaldun”

Hermeneutika Ghazalian: Mengaji Kitab Qãnūn al-Ta’wîl

 

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi asy-Syafi’i (1058 -1111) menulis sejumlah karya yang ditujukan tidak hanya untuk memberi respon terhadap perdebatan pemikiran, melainkan juga jawaban langsung terhadap persoalan sosial yang ia hadapi. Dengan keterlibatan semacam itu, al-Ghazali tampak menyadari pluralitas sosial yang tidak mungkin direduksi dalam sikap dan perilaku absolutis. Continue reading “Hermeneutika Ghazalian: Mengaji Kitab Qãnūn al-Ta’wîl”